Minggu, Desember 02, 2007

Jasa Besar Sam Tjay Kong Tetap Dihargai Keraton Cirebon


MAKAM Sam Tjay Kong yang terletak di Jln. Sukalila Utara atau belakang Pasar Pagi Kota Cirebon kini tengah menjadi perhatian serius, khususnya warga keturunan Tionghoa. Berawal dari kebijakan pemkot terkait pelaksanaan projek penataan Pedagang kaki lima (PKL) yang tengah digarap sebuah developer dalam dua bulan terakhir ini.
MAKAM Sam Tjay Kong alias Tumenggung Aria Wira Tjoela di Jln. Sukalila Utara, Kota Cirebon yang meninggal tahun 1739 dan merupakan salah satu cagar budaya. Sam Tjay Kong adalah Cina muslim kerabat Putri Tan Nio Tien, istri Sunan Gunung Djati yang juga menjabat semacam menteri keuangan Kesultanan Cirebon pada masa pemerintahan Sunan Gunung Djati.* AGUNG NUGROHO/"PR"


Pelaksanaan projek tersebut, rupanya memicu protes keras dari warga keturunan Tionghoa yang tergabung dalam sejumlah lembaga. Sebut saja MPTC (Masyarakat Peduli Tionghoa Cirebon), PSMTI (Paguyuban Sosial Masyarakat tionghoa Indonesia) dan MAKIN (Majelis Agama Kong Hu Cu).

Aksi protes terkait dengan pemasangan tenda yang terdapat persis di depan pagar kompleks makam Sam Tjay Kong. Makam tersebut, ternyata merupakan cagar budaya yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa, tidak saja di Kota Cirebon, tetapi juga di Jabar dan Indonesia.

Pekuburan berusia lebih dari 300 tahun itu merupakan makam keramat dan memiliki nilai historis tinggi. Apalagi, sosok yang dikuburkan di pusara seluas 50 x 50 meter itu, ternyata salah seorang tokoh yang memegang peranan strategis pada masa awal-awal Kesultanan Cirebon.

Polemik pun terjadi terkait dengan pemasangan tenda yang menurut Jeremy Huang, Ketua MPTC dan PSMTI Cirebon, merupakan bentuk kesewenang-wenangan pemkot karena terkesan tidak peduli dengan keberadaan makam sebagai bagian dari cagar budaya Kota Cirebon.

Sikap warga Tionghoa itu juga memperoleh dukungan kalangan sejarawan Kota Cirebon. Di antaranya H.R. Sutadji, K.S, sejarawan yang meminta agar tenda yang telah terpasang dibongkar demi menjaga kelestarian kuburan Sam Tjay Kong.

Seiring terjadinya polemik, masyarakat Cirebon pun kemudian bertanya-tanya, siapakah Sam Tjay Kong. Sosok yang makamnya ternyata menuai protes keras warga Tionghoa ketika di depan pagarnya dipasangi tenda permanen untuk para PKL.

Memang tidak banyak literatur sejarah dalam konteks masa-masa awal berdirinya Caruban Nagari, sebagai kerajaan Islam (Kesultanan Cirebon) yang mengungkapkan sosok Sam Tjay Kong. Kendati demikian, Sam Tjay Kong diakui resmi oleh Keraton Pasepuhan Cirebon, sebagai salah satu pembesar keraton yang memiliki jasa besar bagi Kesultanan Cirebon.

Meski jasanya sangat besar, namun namanya redup justru akibat sikapnya di akhir masa-masa hidupnya. Sam Tjay Kong oleh kalangan muslim (termasuk Cina Muslim di Cirebon), disebutnya sebagai 'murtad', dikarenakan di akhir-akhir hidupnya, dia memilih pindah ke agama Kong Hu Cu.

Walau telah berpindah ke Kong Hu Cu, ketika Sam Tjay Kong meninggal dunia yang menurut prasasti kuburnya tercatat hari Senin, tanggal 24 tahun Jawa 1739 atau sekira tahun masehi 1660 (dikurangi 79 tahun-Red.), Keraton Kasepuhan tetap memberi penghargaan. Hanya saja karena saat meninggal dunia berstatus agama Kong Hu Cu, maka makamnya pun dipisahkan dengan kompleks makam Cina muslim yang berada di Gunung Sembung, depan kompleks makam Sunan Gunung Djati.

Menteri Keuangan handal

Sam Tjay Kong semasa hidupnya dikenal sebagai administrator unggul. Dialah yang memegang dan mengatur arus keuangan Keraton Kasepuhan, dia dikenal sebagai bendahara atau "menteri Keuangan' yang andal. Berkat kepiawaiannya, Keraton Kasepuhan bisa berkembang dan sehat dari sisi keuangan sehingga syiar Islam di tanah Jawa (Jabar-Red.) bisa berjalan lancar.

Meski sekilas, nama Sam Tjay Kong sempat tercatat dalam dua risalah sejarah Cina di Indonesia pada masa Kesultanan Cirebon (Caruban Nagari). Pertama adalah buku "Chinese Epigraph Material in Indonesia" (Cagar Budaya Cina di Indonesia) dengan penulis Salmon Claudine, kemudian buku "Cina Muslim di Jawa abad XV dan XVI" yang ditulis H.J. de Graff.

Dalam bukunya, de Graff menemukan sosok Sam Tjay Kong pada catatan tahunan Melayu oleh Tom Pires (pengelana bangsa Portugal). Dalam catatan Melayu, Sam Tjay Kong aslinya bernama Tan Sam Cai dengan nama muslim Muhammad Syafi'i.

Dia menjadi Menteri Keuangan Keraton Kasepuhan Cirebon sepeninggal Sunan Gunung Djati. Disebut-sebut, Sam Tjay Kong alias Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi'i, menjadi bendahara cakap dan terpercaya pada masa transisi ketika Kesultanan Cirebon di bawah Panembahan Ratu, pengganti sementara Sunan Gunung Djati yang telah wafat.

Dalam catatan Melayu Tom Pires, disebutkan Sam Tjay Kong mengakhiri hidupnya dengan tragis. Dia meninggal dunia di salah satu gua di kompleks pertapaan Gua Sunyaragi yang dibangunnya sendiri, dia meninggal dunia bersama seorang "harim" (istri simpanan).

Saat itu, statusnya sudah berpindah agama dari Islam ke Kong Hu Cu. Perpindahan agama Sam Tjay Kong tidak dijelaskan secara gamblang dalam sejarah. Hanya menurut Jeremy Huang, Sam Tjay Kong atau Muhammad Syafi'i mengalami goncangan psikologis sepeninggal Sunan Gunung Djati, sehingga memutuskan pindah ke Kong Hu Cu.

Tetap dihormati

Jasad Sam Tjay Kong ditolak mentah-mentah saat akan dikuburkan di pemakaman Cina muslim di Gunung Sembung. Penolakan itu dilakukan oleh seorang petinggi Keraton Kasepuhan lainnya yang juga keturunan tionghoa, bernama Kung Sun Pak, sebagai juru kunci makam Gunung Sembung (Kung Sun Pak adalah cucu Kung Wung Ying, wakil Laksamana Cheng Ho yang ditugaskan mendarat di Caruban Nagari untuk membantu perkembangan Islam di Kesultanan Cirebon).

Meski demikian, pemakaman jasad Sam Tjay Kong alias Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi'i menggunakan upacara resmi kenegaraan. Apalagi Keraton Kasepuhan Cirebon (Kesultanan Cirebon) memberi gelar kebesaran terhadap Sam Tjay Kong dengan sebutan Tumenggung Aria Wira Tjoela, berkat jasa besarnya sebagai menteri keuangan.

"Gelar Aria itu merupakan gelar yang tinggi. Ini hanya bisa diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa luar biasa bagi Keraton Cirebon. Sam Tjay Kong memperoleh gelar tertinggi yang hanya setingkat di bawah Rakean. Rakean itu gelar turun-temurun keturunan raja atau sultan," tutur sejarawan, Sutadji.

Sosok Sam Tjay Kong juga disinggung secara sekilas dalam buku sejarah "Cagar Budaya Cina di Indonesia" dengan penulis Salmon Claudine. Di buku itu, disebut-sebut bahwa Sam Tjay Kong merupakan arsitek kompleks pertapaan raja atau yang dikenal dengan Gua Sunyaragi.

Mengutip Bong Pay (nisan kubur) Sam Tjay Kong, buku itu mengemukakan, Sam Tjay Kong memiliki nama kecil Chen San Cai, kemudian berubah menjadi Tam Sam Tjay. Setelah menjabat sebagai bendahara keraton memperoleh gelar Tumenggung Aria Wira Tjoela dan memiliki nama muslim Muhammad Syafi'i.

Berasal dari daerah Chen Lan She yang masih merupakan wilayah Ds. Lang Xi, Kab. Zhy Zhou, Fu Jian, Cina Selatan. Mendarat ke Cirebon ikut rombongan Putri Ong Tin Nio, anak raja Hong Gi yang setelah menikah dengan Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayat) di Keraton Prabu Luragung (Jagakarsa, Adipati Kuningan) pada tahun 1481 masehi, bergelar Ratu Sumanding dan menetap di Pesanggrahan Gunung Sembung.

Mengenai keberadaan Sam Tjay Kong sebagai pengawal Putri Ong Tien Nio ini masih kontroversial. Sejarawan Sutadji bahkan meragukan fakta itu, sebab dalam catatan sejarahnya, Putri Ong Tien Nio mendarat di Pelabuhan Muara Jati dikawal oleh dua orang, yakni pengawal Lie Guan Chang dan nakhkoda Lie Gun Hien. "Saya tidak menemukan nama Sam Tjay Kong atau Tan Sam Tjay sebagai pengawal Putri Ong Tien Nio saat mau dikawinkan dengan Syarif Hidayat. Namun, kalau ada catatan sejarah dengan sumber valid menyatakan Sam Tjay Kong sebagai pengawal, itu bisa saja. Mengingat banyak fakta sejarah yang belum terungkap," tutur dia.

Meski dinilai sosok kontroversial, namun nama Sam Tjay Kong tetap dihormati sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah Kesultanan Cirebon. Bahkan sebagai bukti penghormatan itu, kompleks makamnya yang terdiri dari 1 makam utama dan 4 makam kerabat, dihiasi bangunan dengan dua gaya arsitektur, yakni Islam dan Cina (Kong Hu Cu). "Sam Tjay Kong sangat dihormati warga tionghoa beragama Kong Hu Cu. Ia juga yang membangun Klenteng di daerah Talang, Kota Cirebon," tutur Jeremy.

Sebagai penghormatan, di tahun 1919 masehi, makam Sam Tjay Kong dipagar keliling oleh Mayor Tan Chi Ji, pemimpin pecinan di Kota Cirebon. Pagar itu dilengkapi prasasti bertuliskan huruf kanji Cina, melayu, dan Jawa.

Makam Sam Tjay Kong juga pernah mashur dan dikenal luas oleh masyarakat di tahun 60 sampai 70-an. Di kompleks makam itu, dulu menjadi salah satu pusat keramaian kota Cirebon tempo dulu dimana banyak pedagang termasuk juga tukang ramal yang memanfaatkan para peziarah ke makam keramat itu, juga bagi sebagian warga digunakan untuk memperoleh wangsit agar dapat petunjuk mendapat rezeki dari kode buntut. "Tahun 70-an, di depan makam bahkan menjadi terminal sado atau dokar. Ratusan peziarah datang dari berbagai daerah, tak hanya warga tionghoa," ujar Jeremy.

Memasuki tahun 80-an, kemashyuran makam itu pudar. Yang semula ramai menjadi sepi hingga tumbuhlah ilalang dan tidak terawat, bahkan sering digunakan untuk maksiat seperti prostitusi, perjudian sampai pesta minuman keras para berandal.

Setelah reformasi, makam itu kembali terawat. Masyarakat tionghoa yang semula acuh tak acuh, mulai ikut peduli, juga dari sebuah parpol yang sempat mengerahkan masa untuk membersihkan kompleks makam.

Makam ini semula sepertinya hilang ditelan zaman. Belakangan dengan dibangunnya tenda di depan pagarnya oleh developer yang mengerjakan projek penataan PKL, nama Sam Tjay Kong, Tan Sam Tjay, Tumenggung Aria Wira Tjoela dan Muhammad Syafi'i pun kembali muncul menjadi polemik.(Agung Nugroho/"PR")***

BUDAYA TIONGHOA BAGIAN DARI BUDAYA NUSANTARA

Dalam salah satu ajaran Islam terdapat hadist Nabi yang menyebutkan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Pertanyaannya, kenapa yang disebut Cina,bukan negara-negara Eropa atau lainnya? Padahal menurut Prof Dr Ahmad Baiquni, negeri Cina ketika itu belum Islam. Lalu apa yang harus dipelajari di Cina? Jelas bukan soal agama, melainkan karena kebudayaan dan peradabannya yang tinggi. Masih menurut Prof Dr Ahmad Baiquni, sudah sejak 3000 tahun (30 abad) sebelum kelahiran Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Cina sudah demikian maju sehingga dikenal sampai ke Timur Tengah khususnya Arab. Mereka sudah menguasai ilmu astronomi bahkan mempunyai tempat-tempat observasi, mampu membuat ramuan untuk mengawetkan mayat sampai membuat obat bahan peledak.

Karena menguasai ilmu astronomi itu dengan mudah orang Cina bisa mengembara sampai ke Timur Tengah.Mereka membuka hubungan dagang sejak Islam mulai berkembang di Timur Tengah sekitar abad ke 7. Mereka memperkenalkan teknologi pembuatan kertas dan tinta serta ilmu cetak, dan ternyata hal ini menarik perhatian orang Arab. Bangsa Arab menyambut baik kedatangan bangsa Cina beserta ilmu-ilmu yang dibawanya, khususnya ilmu cetak. Hal ini disebabkan, saat itu bangsa Arab sangat membutuhkan teknologi pembuatan kertas, tinta, dan ilmu cetak untuk menyatukan tulisan-tulisan Arab yang ditulis pada pelepah kurma, kulit sapi, dan kulit pohon, yang tentu saja media menulis tersebut sangat mudah rusak, sukar dibaca, dan sukar didapat.

Dengan “oleh-oleh” dari bangsa Cina itu pulalah, bangsa Arab kemudian mendapatkan kemudahan untuk menyatukan ayat-ayat Suci Al Qur’an yang diturunkan Allah yang semula juga dicatat bertebaran di pelepah kurma, kulit unta dan lain-lain.. Sebaliknya orang-orang Cina kembali ke negerinya dengan membawa “oleh-oleh” ajaran Islam. Ajaran Islam tersebut kemudian disebarluaskan pada masyarakat Cina yang sudah ditulis di atas kertas dengan tinta serta dicetak dalam jumlah yang banyak. Dapat disimpulkan bahwa bangsa Cina termasuk yang telah mempelopori penyebaran ajaran Islam keluar dari wilayah Timur Tengah dan menyebarkannya ke wilayah Asia lainnya, termasuk nantinya ke wilayah Indonesia yang ada di selatan Cina.

Mulailah orang-orang Cina berdatangan ke Indonesia bukan hanya berdagang, namun seperti ketika mereka ke Arab, orang-orang Cina yang datang ke Indonesia juga membawa “oleh-oleh” kebudayaan mereka, teknologi pembuatan kertas dan tinta serta ilmu cetak- mencetak ditambah ajaran Islam yang baru mereka peroleh dari Arab. Oleh karena itu pada abad ke 7, ajaran Islam mulai dikenal di Nusantara, khususnya di Jawadwipa (kini Jawa), mereka mendarat di Pantai Banten dan menyebarkan Islam di sana. Selain mendarat di Banten, mereka juga ada yang mendarat di Caruban (kini dikenal dengan nama Cirebon) melalui pelabuhan Muharajati yang semula merupakan pelabuhan pusat perdagangan Kerajaan Padjajaran dan Pakuan. Saat kedatangan orang-orang Cina di Bogor, Kerajaan Tarumanegara sudah berdiri dan mereka menyebutnya To-lo-mo (Ta-ru-ma menurut lidah mereka). Di Jawa Tengah mereka mendarat di Semarang dan menyebarkan Islam ke Glagahwangi yang di kemudian hari dikenal sebagai Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Pangeran Patah (lebih dikenal Raden Patah). Di daerah ini pula dikenal adanya seorang sultan yang ketika wafat dimakamkan di Gunung Muria sehingga dikenal sebagai Sunan Muria. Di Jawa Timur mereka mendarat di Tuban dan Surabaya. Salah satu dari mereka kemudian menjadi Wali, yang dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Putra dari Sunan Ampel pun menjadi Wali, yaitu Sunan Bonang. Sunan Ampel dan Sunan Bonang lebih dikenal dengan nama pribumi. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah masuknya ajaran Islam di masyarakat Jawa. Di Gresik terdapat makam Sunan Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi.

Sebagaimana sudah disebutkan, kedatangan mereka di Pantai Utara Jawa itu di samping menyebarkan ajaran Islam juga budaya Cina. Oleh karena itu di Sunda Kelapa (Pelabuhan kerajaan Padjajaran juga) budaya mereka berbaur dengan kebudayaan penduduk asli yng kemudian menyebut diri mereka sebagai suku Betawi dan hingga kini, kita mengenal kesenian cokek, lenong, dan lain-lain yang merupakan akulturasi budaya Cina dan Betawi, yang kini kemudian diklaim sebagai kesenian Betawi. Musik Tanjidor yang merupakan musik khas Betawi pun beberapa alat musiknya menggunakan alat musik khas Cina, seperti rebab, dan lain-lain. Perhatikan pakaian pengantin Betawi, yang mirip pakaian pengantin di zaman dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina pada abad ke 7. Selain itu bahasa Indonesia pun banyak yang berasal dari serapan bahasa Cina, misalnya becak (Bhe-chia), kue (koe), dan teh (tee).

Selain itu makanan-makanan kegemaran sebagian masyarakat Indonesia pun banyak yang berasal dari bahasa Cina, seperti bakmie, bakpao, bakso, bakpya, bakwan dan lain-lain, dan tentunya masyarakat kita tidak lagi mempermasalahkan atau memikirkan dari mana asal makanan yang enak tersebut. Hal ini disebabkan sudah akrabnya makanan-makanan tersebut di kalangan masyarakat Indonesia Tentu saja di samping makanan juga minuman,seperti misalnya daun teh, di mana tanaman ini dikenal berasal dari Cina Selatan. Budaya Betawi dan budaya suku-suku lainnya di Indonesia seperti budaya Sunda, budaya Jawa, adalah sebagian dari akar budaya Indonesia. Jadi budaya Cina yang berakulturasi dengan budaya suku-suku di Indonesia juga merupakan budaya Indonesia.

Di Jawa Tengah (dekat Semarang) mereka mendirikan Klenteng Sam Po-Kong. Di klenteng inilah ditemukan catatan sejarah tentang masuknya Cina ke Jawa, serta uraian bahwa para wali dan tokoh-tokoh pahlawan pun sebagian adalah orang keturunan Cina, misalnya Adipati Unus, Panembahan Jim Bun, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan lain-lain. Prof. Dr. Slamet Muliana telah meneliti dan menghimpun sejarah masuknya Cina ke Jawa yang dibawa para pedagang Cina itu dan dibukukan. Bahkan di dekat Jepara mereka memugar Kerajaan Holing yang dikalangan masyarakat Jawa lebih dikenal dengan nama Keling atau Kalingga. Nama lain dari Holing adalah Chepo (Jawa). Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Shima. Ratu Shima adalah seorang ratu keturunan Cina. Di sekitar Semarang kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan di kawasan inipun terdapat makam Sunan Demak, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Giri, dan lain-lain.

Pendatang Cina dan kebudayaannya berkembang pesat di Nusantara. Kini mereka menjadi suku tersendiri yang disebut Suku Tionghoa. Sesungguhnya suku ini sama kedudukannya dengan Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Madura, dan lain-lain karena suku ini sama-sama beranak cucu dan sudah menghuni bumi Nusantara setidaknya sejak abad ke 7. Sehingga mereka sebenarnya sama-sama sebagai warga negara Indonesia. Disahkannya UU RI No.12 tahun 2006 (yang menggantikan UU No. 62 tahun 1958) serta dihapusnya kewajiban orang Tionghoa di Indonesia untuk memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) melalui keputusan presiden No. 56 tahun 1996. memperkuat kedudukan suku Tionghoa di Indonesia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Seperti semboyan negara kita “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda namun tetap satu. Maka suku-suku di Indonesia tak terkecuali suku Tionghoa merupakan suku yang telah banyak memperkaya kebudayaan Nusantara.

Sumber : Seruni Ambarkasih Mahasiswi Fak. Ilmu Budaya Universitas Indonesia

Buah Tjampolay = Buah Naga?






Buah Campolai (Tjampolay) yang dilampirkan di layout merk sirup ini masih penuh tanda tanya. Buah apa sih ini? kami mulai membandingkan buah ini dengan beberapa jenis buah-buahan yang ada sekarang contohnya buah naga..

kalau kita bertanya pada orang tua sekalipun tentang pertanyaan ini jawabannya adalah
"ga tau"

karena itu kita memberi sedikit penjelasan tentang buah naga, namun sepertinya belum memecahkan misteri tentang tjampolay.

Pokok Buah Naga
Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas. Pokok Buah Naga

Pokok Buah Naga adalah buah daripada sejenis pokok kaktus. Ia ditanam secara komersial di Vietnam dan Australia, walaupun ia berasal dari Amerika Selatan. Buah naga yang matang adalah seberat lebih kurang 400 gram tetapi ada juga yang membesar sehingga lebih satu kilogram!

Isi buah naga berwarna putih, merah, atau ungu dengan taburan biji-biji yang berwarna hitam yang boleh dimakan. Tekstur isinya adalah seperti isi tembikai, manakala rasanya pula adalah seperti buah kiwi. Ciri-ciri unik inilah yang menjadikan buah naga amat sesuai dijadikan ramuan dalam salad buah-buahan.


Spesies lain

Nama lain bagi buah naga ialah pir strawberi, buah kaktus, pitaya, pitahaya, atau kaktus orkid. Dua spesies yang sering ditanam secara komersial ialah Hylocereus undatus(isi putih) dan Hylocereus polyrhizus(isi merah). Spesies lain yang kurang terkenal ialah Seleniereus megalanthus, yang mempunyai isi putih dan berkulit kuning

Bunga

Bunga pokok naga mengeluarkan bau wangi yang menarik perhatian serangga dan kelawar, yang bertindak sebagai agen pendebungaan. Bunga ini biasanya kembang hanya untuk satu malam dan selepas subuh, bunganya mula kuncup. Yang menarik ialah kaktus ini berupaya menyimpan air. Tidak hairanlah buah naga mengandungi 80% air, selain kandungan vitamin C yang tinggi berbanding tembikai dan epal.

Zat makanan

Zat makanan lain yang terkandung di dalam buah naga ialah serat, kalsium, zat besi, dan fosforus yang cukup bermanfaat untuk merawat penyakit darah tinggi. Buah naga berisi merah pula sangat baik untuk memperbaiki penglihatan mata kerana kandungan karotenoidnya yang tinggi. Fitokimia di dalam buahnya juga diketahui dapat merendahkan risiko kanser.

Industri buah-buahan di luar negara menggunakan buah naga dalam pembuatan wain. Selain buah, bunga dan batang buah naga daripada spesies Selenicereus grandiflorus khususnya, digunakan dalam pembuatan ubat-ubatan yang memberikan kesan baik pada salur darah koronari dan menggalakkan peredaran darah yang baik di dalam tubuh.

Teknik memilih

Apabila memilih buah naga, pastikan buahnya berat, kelihatan segar, dan keras serta berkilat, dengan sisik, yang berwarna kehijauan. Buah naga sedap dimakan begitu sahaja atau dibuat jus dan dimasukkan ke dalam salah buah-buahan, ataupun dijadikan ramuan masakan seperti sup(bagi buah yang muda).

Sejarah Keturunan Tionghoa Indonesia


Demak, Banten,Cirebon
Pada dasawarsa2 terachir abad ke 15 di Jawa Tengah telah didirikan kerajaan Islam Demak yang berlangsung dari 1475/1478 hingga 1546/1568. Pendirinya adalah puteranya Cek Ko-Po dan berasal Palembang dimana ketika itu terdapat masyarakat Islam Tionghoa yang besar. Beliau terkenal dengan nama Raden Patah (AL Fatah), alias Jin Bun / Panembahan Jimbun / Arya (Cu-Cu) Sumangsang / Prabu Anom. Orang2 Portugis menyebutnya Pate Rodin Sr. Menurut orang Portugis Tome Pires, beliau seorang “persona de grande syso”, a man of great power of judgement, seorang satria (cavaleiro, a knight, a nobleman). Terkaan bahwa Jimbun nama suatu tempat dekat Demak tidak masuk akal. Penjelasan prof. Muljana nama Jin Bun berarti “orang kuat” dalam dialek Tionghoa-Yunnan. Semasa dynasti Yuan (Monggol) di propinsi Yunnan terdapat banyak penganut agama Islam.

Kalangan berkuasa Demak sebagian besar terdiri dari orang2 keturunan Tionghoa. Sebelum jaman kolonial pernikahan antara orang Tionghoa dengan orang Pribumi merupakan hal yang normal. Dr. Pigeaud dan Dr. de Graaf telah menggambarkan keadaan pada abad ke 16 sbb.: di kota2 pelabuhan pulau Jawa kalangan berkuasa terdiri dari keluarga2 campuran, kebanyakan Tionghoa peranakan Jawa dan Indo-Jawa. Sumber2 sejarah pihak Pribumi Indonesia menyebut, dalam abad ke 16 sejumlah besar orang Tionghoa hidup di kota2 pantai Utara Jawa. Disamping Demak, juga di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Tse Tsun) dan Surabaya. Banyak orang Tionghoa Islam mempunyai nama Jawa dan dengan sendirinya juga nama Arab. Pada jaman itu sebagai Muslimin mempunyai nama Arab meninggihkan gengsi.

Salah satu cucunya Raden Patah tercatat mempunyai cita2 untuk menyamai Sultan Turki. Menurut De Graaf dan Pigeaud, Sunan Prawata (Muk Ming) raja Demak terachir yang mengatakan pada Manuel Pinto, beliau berjuang sekeras2nya untuk meng-Islamkan seluruh Jawa. Bila berhasil beliau akan menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya. Nampaknya beliau telah mengunjungi Turki.

Sumber2 Pribumi menegaskan raja-raja Kerajaan Demak orang Tionghoa atau Tionghoa peranakan Jawa. Terlalu banyak untuk memuat semua nama2 tokoh sejarah yang di-identifikasi sebagai orang Tionghoa. Diantaranya Raden Kusen (Kin San, adik tiri Raden Patah), Sunan Bonang (Bong Ang, putera Sunan Ngampel alias Bong Swee Ho), Sunan Derajat juga putera Sunan Ngampel, Sunan Kalijaga (Gan Si Chang), Ja Tik Su (tidak jelas beliau Sunan Undung atau Sunan Kudus. Ada sumber mengatakan Sunan Undung ayah Sunan Kudus dan menantunya Sunan Ngampel), Endroseno, panglima terachir tentara Sunan Giri, Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan suami Ratu Kalinyamat, Ki Rakim, Nyai Gede Pinatih (ibu angkatnya Sunan Giri dan keturunannya Shih Chin Ching tuan besar (overlord) orang Tionghoa di Palembang), Puteri Ong Tien Nio yang menurut tradisi adalah isterinya Sunan Gunung Jati, Cekong Mas (dari keluarga Han, makamnya terletak didalam suatu langgar di Prajekan dekat Situbondo Jawa Timur dan dipandang suci), Adipati Astrawijaya, bupati yang diangkat oleh VOC Belanda tetapi memihak pemberontak ketika orang2 Tionghoa di Semarang berontak melawan Belanda pada thn. 1741 dan Raden Tumenggung Secodiningrat Yokyakarta (Baba Jim Sing alias Tan Jin Sing). Menurut prof. Muljana, Sunan Giri dari pihak ayahnya adalah cucu dari Bong Tak Keng, seorang Muslim asal Yunnan Tiongkok yang terkenal sebagai Raja Champa, suatu daerah yang kini menjadi bagian Vietnam. Bong Tak Keng koordinator Tionghoa Perantauan di Asia Tenggara. Ayah ibunya Sunan Giri adalah Raja Blambangan, Jawa Timur. Giri nama bukit di Gresik.

Pengaruh arsitektur Tionghoa terlihat pada bentuk mesjid2 di Jawa terutama di daerah2 pesisir bagian Utara. Agama Islam yang pertama masuk di Sumatera Selatan dan di Jawa mazhab (sekte) Hanafi. Datangnya melalui Yunnan Tiongkok pada waktu dynasti Yuan dan permulaan dynasti Ming. Prof. Muljana berpendapat bila agama Islam di pantai Utara Jawa masuknya dari Malaka atau Sumatera Timur, mazhabnya Syafi’i dan/atau Syi’ite dan ini bukan demikian halnya. Beliau menekankan mazhab Hanafi hingga abad ke 13 hanya dikenal di Central Asia, India Utara dan Turki. Meskipun agama Islam pada abad ke 8 sudah tercatat di Tiongkok, Mazhab Hanafi baru masuk Tiongkok jaman dynasti Yuan abad ke 13, setelah Central Asia dikuasai Jengiz Khan.

Kepergian banyak Muslim Tionghoa (exodus) dari Tiongkok terjadi pada thn.1385 ketika diusir dari kota Canton. Jauh sebelum itu, Champa sudah diduduki Nasaruddin jendral Muslim dari Kublai Khan. Jendral Nasaruddin diduga telah mendatangkan agama Islam ke Cochin China. Sejumlah pusat Muslim Tionghoa didirikan di Champa, Palembang dan Jawa Timur.

Ketika pada thn.1413 Ma Huan mengunjungi Pulau Jawa dengan Laksamana Cheng Ho, beliau mencatat agama Islam terutama agamanya orang Tionghoa dan orang Ta-shi (menurut prof. Muljana orang2 Arab). Belum ada Muslimin Pribumi. Pada thn.1513-1514 Tome Pires mengambarkan kota Gresik sebagai kota makmur dikuasai oleh orang2 Muslim asal luar Jawa. Pada thn. 1451 Ngampel Denta didirikan oleh Bong Swee Ho alias Sunan Ngampel untuk menyebarkan agama Islam mazhab Hanafi diantara orang2 Pribumi. Sebelum itu beliau mempunyai pusat Muslim Tionghoa di Bangil. Pusat ini ditutup setelah bantuan dari Tiongkok berhenti karena tahun 1430 hingga 1567 berlaku maklumat kaisar melarang orang2 Tionghoa untuk meninggalkan Tiongkok.

Sangat menarik perhatian karena saya alami sendiri, setidak2nya hingga jaman pendudukan Jepang, rakyat kota Malang Jawa Timur masih mempergunakan sebutan “Kyai” untuk seorang lelaki Tionghoa Totok. Kyai berarti guru agama Islam. Padahal yang dijuluki itu bukan orang Islam. Kebiasaan tsb peninggalan jaman dulu. Gelar Sunan berasal dari perkataan dialek Tionghoa Hokkian “Suhu, Saihu”. 8 Orang Wali Songo mazhab Hanafi bergelar Sunan. Satu dari Wali Songo mazhab Syi’ite bergelar Syeh dari bahasa Arab Sheik.

Kesimpulan wajar, para aktivis Islam mazhab Hanafi di Asia Tenggara semasa itu semuanya orang Tionghoa. Sedikit banyak dapat dipersamakan dengan penyebaran agama Kristen dari Eropa ke lain-lain benua. Hingga abad ke 19 kaum penyebar diatas tingkat lokal dapat dikatakan semuanya orang Eropa. Tanah Tiongkok hampir seluas Eropa. Membuat perbandingan dengan Tiongkok tidak dapat dilakukan dengan salah satu negara Eropa tetapi harus dengan seluruh Eropa. Seperti juga suku2 Eropa dengan bahasa2nya berbeda satu sama lain, demikian pula terdapat perbedaan antara suku2 dengan bahasa2nya di Tiongkok. Keunggulan Tiongkok memiliki tulisan ideogram yang dapat dimengerti meskipun bahasanya berlainan.

Lit.:

- De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”, “Islamic states in Java 1500-1700″.

- Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia”.

- Slametmuljana (dalam buku bahasa Inggris ini, nama penulisnya disambung menjadi satu) “A story of Majapahit”.

- Slamet Muljana “Runtuhnya keradjaan Hindu Djawa dan timbulnja negara2 Islam di Nusantara”.

- Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”.

Kerajaan Islam Demak runtuh disebabkan perang saudara antara cucu2nya Jin Bun (Raden Patah).

Raja2 Demak adalah:
o Jin Bun alias Al-Fatah (Raden Patah) 1478 - 1518
o Yat Sun alias Adipati Yunus 1518 - 1521
o Tung Ka Lo alias Trenggana 1521 - 1546
o Muk Ming alias Sunan Prawata 1546 - 1546

Muk Ming dikalahkan dan terbunuh oleh Arya Penangsang Jipang, seorang cucu lain dari Raden Patah. Penangsang Jipang sendiri kemudian dibunuh oleh iparnya Muk Ming. Kerajaan Islam Demak tiada lagi karena ipar tsb mempunyai negara sendiri di Pajang di pedalaman Jawa Tengah dan merupakan orang Islam mazhab Shi’ite, bukan mazhab Hanafi.

Angkatan Laut Demak dua kali dengan sia2 menyerang kekuatan Portugis di Malaka dan satu kali di Maluku.

Namun pada tahun 1526-1527 Sunan Gunung Jati alias Fatahillah / Toh A Bo / Pangeran Timur, panglima kerajaan Demak, merebut Sunda Kalapa dan berhasil mengusir orang Portugis yang datang dengan maksud membangun benteng. Nama Sunda Kalapa oleh beliau diganti menjadi Jayakarta. Prof. Djajadiningrat menterjemahkan arti Jayakarta sebagai “kemenangan yang tercapai” (volbrachte zege, achieved victory). Dr. de Graaf menyebut adanya laporan sejarawan Portugis bernama de Couto yang mengatakan pada tahun 1564 the martial king of Aceh Ala’ad-Din Shah telah minta pada “Raja Demak, Kaisar Jawa” (o Rey de Dama, Imperador do Jaoa) untuk membantu ekspedisinya menghadapi orang Portugis di Malaka. Nampaknya 18 tahun setelah runtuhnya kerajaan Demak, di tempat tsb masih terdapat kekuasaan yang oleh the mighty king of Aceh dipandang cukup berkuasa untuk diajak bersekutuan. Pada tahun 1574, jauh setelah kerajaan Demak tiada lagi, Ratu Kalinyamat dari Japara, cucu perempuan Raden Patah, masih merasa cukup kuat untuk mengirim kapal2 perang menyerang orang Portugis di Malaka.

Setelah merebut Sunda Kalapa, Sunan Gunung Jati menjadi Sultan Banten dan membentuk masyarakat Islam disana. Kesultanan Banten kemudian beliau serahkan kepada Hasanuddin, puteranya, dan yang belakangan ini oleh tradisi Jawa dipandang sebagai raja Banten yang pertama. Pada tahun 1552 Sunan Gunung Jati datang ke masyarakat Muslim Tionghoa di Cirebon. Beliau kecewa dengan adanya saling bunuh-membunuh antara cucu2nya Raden Patah. Sunan Gung Jati mengabulkan permintaan Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi untuk mendirikan kesultanan di Cirebon seperti Demak dulu. Sebagai orang yang sudah berumur lanjut beliau menjadi sultan Cirebon yang pertama, menikah dengan puterinya Haji Tan Eng Hoat dan putera mereka menjadi Sultan Cirebon yang ke II.

Orang membayangkan bagaimana jalannya sejarah dunia bila kaisar Tiongkok T’ai-tsu tidak kehilangan perhatian terhadap dunia luar. Antara 1430 dan 1567 orang Tionghoa dilarang meninggalkan tanah leluhurnya. Angkatan Laut Tiongkok yang canggih dengan teknologi yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kapal2 Eropa, diterlantarkan. Tahun 1431 yaitu 61 tahun sebelumnya Columbus, kapal-utama Laksamana Cheng Ho berukuran 140 meter, sedangkan panjangnya kapal Columbus hanya 30 meter. Peninggalan2 yang diketemukan menunjukkan Australia dan Amerika Latin telah dikunjungi oleh pelaut2 Tionghoa. Adanya angin2 Timur serta arus2 Pacific dewasa itu jelas sudah diketahui orang Tionghoa. Kapal2 Tiongkok mempergunakan watertight bulkheads sedari abad ke 2 Masehi (2nd century AD). Prinsip tsb baru dikenal di Eropa sekitar tahun 1800, seribu enam ratus tahun kemudian. Seumpamakata armada Cheng Ho tidak dipereteli dan terjadi konfrontasi dengan kapal2 perang Eropa, Tiongkok tidak akan tertidur, tidak akan kepergok dalam keadaan lemah. Dengan perang-candu (1839 - 1842) Inggris memaksa Tiongkok untuk mengijinkan impor candu yang telah menghancurkan tenaga rakyat secara besar2an. Selama satu abad setelah perang-candu, Tiongkok hampir ambruk diserang Inggris, Jerman, Perancis, Jepang dll negara yang sedang jaya.

Dr. Kwee Swan Liat mengutip sejarawan Inggris Joseph Needham sbb.: Ilmu pengetahuan modern berdiri atas dasar teknologi abad pertengahan yang sebagian besar bukan asal Eropa. Selama abad ke 1 hingga abad ke 14 Masehi, Tiongkok telah membanjiri Eropa dengan penemuan2, tanpa Eropa mengetahui dari mana asalnya. Teknik2 numerational dan computational, pengetahuan dasar magnetical phenomena, efficient equine harness, teknologi besi dan baja, penemuan bahan peledak dan kertas, lonceng mekanik, driving belt, chain-drive, cara standard converting rotary to rectilinear motion, segmental arch bridges, nautical techniques seperti stern-post rudder, imunisasi, inokulasi dsb. Semua ini mengakibatkan kegemparan di dunia Barat. William Harvey sebelum tahun 1616 telah menemukan adanya aliran darah dalam tubuh manusia. Hal itu di Tiongkok sudah dikenal lima ratus tahun duluan.

Pada tahun 1574 Lim Ah Hong, seorang yang berada diluar perlindungan hukum (an outlaw) mengepung benteng Spanyol di Pilipina serta nyaris merebut Manila. Kemampuan seorang outlaw Tionghoa untuk mengguncangkan kekuasaan Spanyol di Asia, membuat gubernur Spanyol mengingini hubungan baik dengan kaisar Tiongkok. Tahun 1661 Koxinga mengalahkan Belanda di Taiwan. Satu tahun kemudian beliau mengirim ultimatum kepada penguasa Spanyol di Pilipina untuk menyerah kepadanya atau dihancurkan. Sayang tahun itu juga, ketika orang2 Spanyol sedang panik memperkuat benteng2 pertahanannya, datang berita Koxinga meninggal dunia.

Lain dari apa yang diajarkan di sekolah2 Belanda, penemuan bahan peledak di Tiongkok tidak hanya dipergunakan untuk mercon saja. Sedari permulaan, bahan peledak dipergunakan untuk keperluan2 militer. Pada dynasti T’ang (618-907) bahan peledak “nitre” dan alkimia Tionghoa dikenal orang2 Arab dan Persia sebagai “salju Tionghoa” dan “garam Tionghoa”. Abad ke 13 bahan peledak Tionghoa mulai dikenal Eropa melalui orang Arab yang masa itu berkuasa di Spanyol. Buku2 Arab jaman itu mencatat “botol2 besi” yang dipergunakan oleh tentara Monggol dalam abad ke 13. Pihak Arab memperoleh bermacam2 senjata api lewat orang Monggol. Antara lain senapan2 sederhana dan senapan petir. Tidak lama kemudian orang Arab dapat membuatnya sendiri. Senjata dan roket Arab “Qidan” berdasarkan model2 Tionghoa. Dewasa itu Tiongkok di Eropa terkenal sebagai Qidan. Baru tahun 1326 Inggris, Perancis dan lain negara2 Eropa untuk pertama kalinya membuat alat2 perang yang berasal Tiongkok ini. Senjata-api “blunderbus” yang dipergunakan di Eropa sekitar permulaan abad ke 14 asal-usulnya di Tiongkok.

Lit.:

- Zhou Jiahua “The history of gunpowder and weapons in China”

- Catalogue D/1988/2111/06 exhibition “China Heaven and Earth. 5000 Years inventions and discoveries” Brussels Sept 88 - Jan 89. Institute K.U. Leuven.

Rabu, November 14, 2007









Fungsi Kota

Sesuai dengan visi dan misi Kota Cirebon dan dengan memperhatikan latar belakang sejarah/budaya, demografi, potensi dan pertumbuhan yang berkembang, maka fungsi Kota Cirebon diarahkan menjadi :
Cirebon sebagai kota perdagangan dan jasa, diharapkan mampu menempatkan fungsinya sebagai pusat pengumpulan, pemasaran, dan distribusi hasil-hasil produksi baik yang berasal ari wilayah Jawa Barat bagian Timur dan Jawa Tengah bagian Barat ;
Cirebon sebagai kota pelabuhan, diharapkan dapat berperan sebagai pintu gerbang ekspor-imporyang melayani kota, wilayah belakang (hinterland) dan wilayah Jawa Barat Bagian Timur serta Jawa Tengah Bagian Barat, sehingga dapat berdampak luas/multiplier effect bagi perekonomian Kota Cirebon dan sekitarnya ;
Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional ;
Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.


Sejarah Kota Cirebon

Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad XIV di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Padjadjaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.

Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.

Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

RIWAYAT PEMERINTAHAN
Periode Tahun 1270-1910.
Pada abad XIII Kota Cirebon ditandai dengan kehidupan yang masih tradisional dan pada tahun 1479 berkembang pesat menjadi pusat penyebaran dan Kerajaan Islam terutama di wilayah Jawa Barat.c Kemudian setelah penjajah Belanda masuk, dibangunlah jaringan jalan raya darat dan kereta api sehingga mempengaruhi perkembangan industri dan perdagangan.
Periode Tahun 1910-1937
Pada periode ini Kota Cirebon dishkan menjadi Gemeente Cheirebon dengan luas 1.100 Hektar dan berpenduduk 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370).
Periode Tahun 1937-1967
Tahun 1942 Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 hektar dan tahun 1957 status pemerintahannya menjadi Kota Praja dengan luas 3.300 hektar, setelah ditetapkan menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 hektar.
Periode Tahun 1967-Sekarang
Wilayah Kota Cirebon sampai saat ini seluas 3.735,82 hektar. Terbagi dalam 5 kecamatan dan 22 kelurahan


Struktur Pemerintahan

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah yang menggantikan Peraturan Pemerintah nomor 84 tahun 2000, Walikota Cirebon telah mengesahkan Peraturan Daerah yang mengatur tentang Kelembagaan di lingkungan pemerintah Kota Cirebon, yaitu
Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 11 Tahun 2004 tentang Pembentukan Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada Pemerintah Kota Cirebon
Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 12 Tahun 2004 tentang Pembentukan Dinas-Dinas Daerah pada Pemerintah Kota Cirebon
Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembentukan Lembaga Teknis Daerah pada Pemerintah Kota Cirebon
Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 14 Tahun 2004 tentang Pembentukan Lembaga Kecamatan dan Kelurahan pada Pemerintah Kota Cirebon


Berikut ini kami muat nama-nama Lembaga baru sesuai Perda tersebut diatas :
SEKRETARIS DAERAH
Asisten Pemerintahan
Bagian Tata Pemerintahan
Bagian Otonomi Daerah
Bagian Hukum
Bagian Organisasi dan Manajemen
Asisten Pembangunan
Bagian Perekonomian
Bagian Bina Program
Bagian Kesejahteraan Rakyat
Asisten Administrasi
Bagian Keuangan
Bagian Akuntansi Keuangan
Bagian Umum
Bagian Perlengkapan dan Aset Pemerintah

SEKRETARIS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
Bagian Umum
Bagian Rapat dan Risalah

DINAS-DINAS DAERAH
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Sosial
Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Tenaga Kerja
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Dinas Pertanian dan Kelautan
Dinas Perhubungan
Dinas Pendapatan Daerah
Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Dinas Komunikasi dan Informatika
Dinas Pendidikan
Dinas Kesehatan

LEMBAGA TEKNIS
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Badan Pengawasan Daerah
Badan Kepegawaian Daerah
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah
Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
Kantor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Kantor Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan
Kantor Pengelola Lingkungan Hidup
Kantor Pemadam Kebakaran
Kantor Polisi Pamong Praja
Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati

LEMBAGA KECAMATAN DAN KELUARAHAN
Kecamatan
Kedudukan:
Kecamatan merupakan perangkat daerah Kota yang mempunyai wilayah kerja tertentu, dipimpin oleh seorang Camat, Berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah

Kelurahan
Kedudukan:
Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang mempunyai wilayah kerja tertentu, dipimpin oleh seorang Lurah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Camat.


Kondisi Geografi

LETAK

Kota Cirebon terletak pada 108º33 Bujur Timur dan 6º41 Lintang Selatan pada pantai Utara Pulau Jawa, bagian timur Jawa Barat, memanjang dari barat ke timur ±11 Km dengan ketinggian dari permukaan laut ±5 M (termasuk dataran rendah). Kota Cirebon dapat ditempuh melalui jalan darat sejauh 130 km dari arah Kota Bandung dan 258 km dari arah Kota Jakarta.

Kota Cirebon terletak pada lokasi yang strategis dan menjadi simpul pergerakan transportasi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Letaknya yang berada di wilayah pantai menjadikan Kota Cirebon memiliki wilayah dataran yang lebih luas dibandingkan dengan wilayah perbukitannya. Luas Kota Cirebon adalah 3.735,82 hektar atau ±37 km2 dengan dominasi penggunaan lahan untuk perumahan (32%) dan tanah pertanian (38%).

Wilayah Kotamadya Cirebon dibatasi oleh :
Sebelah Utara : Sungai Kedung Pane
Sebelah Barat : S. Banjir Kanal/ Kabupaten Cirebon
Sebelah Selatan : Sungai Kalijaga
Sebelah Timur : Laut Jawa

Sebagian besar wilayah merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0-2000 dpl, sementara kemiringan lereng antara 0-40 % dimana 0-3 % merupakan daerah berkarateristik kota, 3-25 % daerah transmisi dan 25-40 % merupakan pinggiran.

Terdapat 4 (empat) buah sungai yang cukup besar yaitu :
Sungai Kedung Pane
Sungai Sukalila
Sungai Kesunean
Sungai Kalijaga

Kondisi air tanah agak dipengaruhi oleh intrusi air laut dan relatif dangkal.

IKLIM

Kota Cirebon termasuk dalam iklim tropis dengan suhu udara rata-rata 28°C. Kelembaban udara berkisar antara ± 48-93% dengan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Januari-Maret dan angka terendah terjadi pada bulan Juni-Agustus.

Rata-rata curah hujan tahunan di kota Cirebon ± 2260 mm/tahun dengan jumlah hari hujan ± 155 hari. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, iklim di kota Cirebon termasuk dalam tipe iklim C dengan nilai Q ± 37,5% (persentase antara bulan kering dan bulan basah). Musin hujan jatuh pada bulan Oktober-April, dan musim kemarau jatuh pada bulan Juni-September.

TOPOGRAFI

Kota Cirebon merupakan dataran rendah dengan ketinggian bervariasi antara 0-150 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan presentase kemiringan, wilayah kota Cirebon dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
kemiringan 0-3% tersebar di sebagian wilayah kota Cirebon, kecuali sebagian Kecamatan Harjamukti.
Kemiringan 3-8% tersebar di sebagian besar wilayah Kelurahan Kalijaga, sebagian kecil Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti.
Kemiringan 8-15% tersebar di sebagian wilayah Kelurahan Argasurya, kecamatan Harjamukti.
Kemiringan 15-25% tersebar di wilayah Kelurahan Argasurya, kecamatan Harjamukti.

JENIS TANAH

Pada umumnya jenis tanah di Kota Cirebon adalah tipe regosol yang berasal dari endapan lava dan piroklastik (pasir, lempung, tanah liat, tupa, breksi lumpur, dan kerikil) hasil interupsi Gunung Ciremai. Secara umum jenis tanah yang tersebar di Kota Cirebon ini relatif mudah untuk pengembangan berbagai macam vegetasi.

HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI

Di Kota Cirebon terdapat 4 sungai yang tersebar merata di seluruh wilayah, yaitu sungai Kedungpane, sungai Sukalila (penyatuan dari sungai Sicemplung dan sungai Sijarak), sungai Kesunean dan sungai Kalijaga (penyatuan sungai Cikalong, sungai Cideng, dan sungai Lunyu).

Keadaan air tanah di kota Cirebon pada umumnya dipengaruhi oleh intrusi air laut. Di beberapa wilayah kondisi air tanah relatif sangat rendah (1 meter) dan rasanya agak asin, sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan air minum.


Rencana Tata Kota
Kebijakan Umum Pembangunan Kota Cirebon

Berdasarkan karateristik kota, peluang dan tantangan yang akan di hadapi Kota Cirebon di masa datang, Pemerintah Daerah bersama-sama masyarakat dan segenap komponen pelaku pembangunan lainnya sepakat untuk mengembangkan Kota Cirebon menjadi Kota Perdagangan dan Jasa. Rumusan kesepakatan ini tertuang dalam Visi Kota Cirebon sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor I Tahun 2004 tentang Rencana Strategis Kota Cirebon 2004-2008 yaitu:

Kota Cirebon menjadi Kota Perdagangan dan Jasa Yang Maju Tahun 2008

Untuk mewujudkan visi tersebut, ditetapkanlah delapan misi, yaitu:
Meningkatkan kulitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME dan nilai- nilai luhur budaya bangsa.
Meningkatkan profesionalisme aparatur dan revitalisasi kelembagaan Pemerintah Kota yang efektif dan efisien menuju pemerintahan yang baik dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
Meningkatkan keamanan dan ketertiban umum
Optimalisasi pemanfaatan ruang kota dan pelestarian keseimbangan lingkungan hidup
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan prasarana dan sarana ekonomi serta produktifitas ekonomi yang berdaya saing tinggi
Melestarikan dan mengembangkan pariwisata yang bertumpu pada nilai-nilai tradisi dan budaya Cirebon
Pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Peningkatan kemitraan dan optimalisasi kerjasama pemerintah dengan lembaga lain baik yang bersifat lokal, regional, nasional dan internasional. Selanjutnya untuk lebih mengoperasionalkan dan menterjemahkan misi dalam pernyataan yang lebih detail, perlu diuraikan dalam arah kebijakan dan program prioritas.


Kebijakan Tata Ruang Kota Cirebon

Kebijakan tata ruang Kota Cirebon didasarkan pada revisi atas Pertauran Daerah Nomor 3 Tahun 1987 tentang Rencana Induk Kota Kotamadya Daerah Tingkat II Cirebon tahun 1984-2004.

Berdasarkan konsep revisi tersebut Kota Cirebon dibagi menjadi.
BWK I Zone Pelabuhan
BWK II Zone Perdagangan
BWK III Zone Industri
BWK VI Zone Pemerintahan & Kemasyarakatan
BWK V Zone Perumahan
BWK VI Zone Pendidikan, Olahraga & Rekreasi
BWK VII Zone Mix Farming & Konservasi


Potensi Daerah

INDENTIFIKASI PELUANG/PROSPEK

Untuk mewujudkan Kota Cirebon sesuai dengan fungsinya yang diarahkan sebagai kota perdagangan dan jasa, kota pelabuhan, kota industri, dan kota budaya dan pariwisata, maka peluang/prospek Kota Cirebon dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
Masih terdapatnya lahan yang kosong dan komersil yang dapat dikembangkan untuk kegiatan perekonomian yang letaknya tersebar diseluruh wilayah Kota Cirebon seperti untuk kegiatan perdagangan dan jasa, perumahan wisata, industri, dan lain-lain.
Lahan pertanian yang masih luas dipinggiran Kota Cirebon yangdapat dimanfaatakan untuk kegiatan agro bisnis.
Sumber daya laut disepanjang pantai Kota Cirebon yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan wisata laut, agro industri, dan sebagainya.
Adanya pelabuhan Cirebon dan Kejawanan / pelabuhan perikanan yang masih terbuka untuk kegiatan industri, perdagangan (ekspor, impor, antar daerah/pulau).
Jumlah penduduk yang cukup dapat dikembangkan dan dilatih agar apat ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan yang didukung oleh sejumlah perguruan tinggi dan sekolah kejuruan.
Tersedianya infrastruktur atau sarana/prasarana penunjang kegiatan perekonomian seperti listrik, air, telekomunikasi, lembaga keuangan, jalan, dan lain-lain.

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN

Untuk sektor-sektor unggulan yang mempunyai potensi dan peluang yang bisa dikembangkan oleh pengusaha / investor baik fasilitas (Penanaman Modal Asing/PMA) dan non fasilitas (Penanaman Modal Swasta Nasional/PMSN) adalah sebagai berikut :
Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan;
Sektor Industri Non Migas;
Sektor Listrik, Gas dan Air Minum;
Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran;


Pertanian, Peternakan dan Perikanan

TANAMAN PANGAN DAN AGROBISNIS

Tanaman pangan meliputi tanaman bahan makanan, sayur-sayuran dan buah-buahan, tanaman bahan makanan terdiri dari jenis padi-padian, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Produksi tanaman bahan makanan pada tahun 2003 mayoritas mengalami peningkatan. Produksi tanaman sayur-sayuran yang ada dikota Cirebon dari delapan komoditas, seluruhnya mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Produksi tanaman mangga yang menjadi primadona daerah kota Cirebon dan sekitarnya pada tahun 2003 mengalami penurunan jumlah produksi yang signifikan yaitu dari 1.197 ton pada tahun 2002 menjadi 861 ton pada tahun 2003

Produksi Tanaman Bahan Makanan Tahun 2001 - 2003
dalam Ton No Komoditi Produksi
2001 2002 2003
1 Padi 1708 2.098 2.119
2 Jagung 15 47 27
3 Ketela Pohon 217 202 244
4 Ketela Rambat 23 9 52
5 Kacang Tanah 31 17 9
6 Kacang Hijau - 2 -

Sumber: Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon



Produksi Tanaman Sayur-sayuran tahun 2001 - 2003
dalam Ton No Komoditi Produksi
2001 2002 2003
1 Kacang Panjang 12 53 61
2 Cabe 29 15 87
3 Terung 5 11 75
4 Ketimun 22 62 144
4 Bayam 21 37 57
6 Kangkung 61 44 76

Sumber: Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon



Produksi Tanaman Buah-buahan Tahunan tahun 2001 - 2003No Komoditi Produksi
2001 2002 2003
1 Mangga 783 1.197 861
2 Rambutan 4 3 11
3 Jeruk 5 1 1
4 Jambu 630 37 98
5 Sawo 1 1 64
6 Pepaya 179 82 21
7 Pisang 361 157 616
8 Belimbing 57 11 41

Sumber: Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon


Industri Non Migas
Industri Non Migas adalah industri non migas, seperti peternakan, produksi daging, telur, susu dan jumlah ternak yang dipotong di rumah potong hewan (RPH), data ini bersumber dari Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon.

Populasi ternak pada tahun 2003 yang tertinggi adalah ayam buras yaitu sebanyak 52.318 ekor, kemudian ayam pedaging 181.112 ekor, itik 6.336 ekor.

Pada tahun 2003 populasi unggas terbnyak di Kecamatan Harjamukti, untuk jenis unggas ayam buras mencapai 32.819 ekor kemudian Kecamatan Lemahwungkuk 10.736 ekor, Kecamatan Kesambi mencapai 4.712 ekor, Kecamatan Pekalipan mencapai 646 ekor dan 3.405 ekor berada di Kecamatan Kejaksan.

Produksi daging pada tahun 2003 mencapai 812.588 kg yang sebagian besar merupakan produksi daging ayam ras pedaging yaitu mencapai 416.556 kg , kemudian 132.042 ton daging jenis daging ayam buras dan 126.583 kg daging sapi segar.Selama tahun 2003 produksi telor yang dihasilkan berasal dari jenis unggas ayam buras, ayam ras dan itik masing-masing sebesar 699.444, 183.212, dan 306.543 butir. Sedangkan untuk sapi perah menghasilkan susu sebesar 17.699 liter susu segar murni.

Populasi Ternak Pada Tahun 2001 - 2003 satuan ekor No Komoditi Produksi
2001 2002 2003
1 Sapi Perah 5 5 7
2 Kerbau 19 20 21
3 Kambing 115 122 116
4 Domba 2.908 3.377 3.521
5 Ayam Buras 46.400 47.561 52.318
6 Ayam Ras :




- Pedaging 33.774 108.000 181.112

- Petelur 750 750 500
7 Itik 4.403 5.817 6.336

Sumber: Dinas Peternakan Kota Cirebon



Populasi Ternak Menurut Kecamatan Tahun 1999 - 2003No Kecamatan Ayam Buras Itik Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging
1 Harjamukti 32.819 1.256 300 69.900
2 Lemahwungkuk 10.736 2.600 - 47.841
3 Pekalipan 646 280 - 18.397
4 Kesambi 4.712 800 200 31.009
5 Kejaksan 3.405 1400 - 14.265


Jumlah : 2003 52.318 6.336 500 181.112
2002 47.561 5.817 750 108.000

2001 46.400 4.403 750 33.774
2000 80.554 9.900 - 18.000

1999 77.035 9.843 - -

Sumber: Dinas Peternakan Kota Cirebon



Populasi Ternak Besar dan Kecil Menurut Kecamatan Tahun 1999 - 2003No Kecamatan Ayam Buras Itik A. Ras Petelur A. Ras Pedaging
1 Harjamukti 4 9 1.279 60
2 Lemahwungkuk 3 4 940 30
3 Pekalipan - - 78 -
4 Kesambi - 6 971 17
5 Kejaksan - 2 253 9


Jumlah : 2003 7 21 3.521 116
2002 5 20 3.377 122

2001 4 14 5.890 1.091
2000 4 14 5.890 1.091

1999 9 43 5.214 1.017

Sumber: Dinas Peternakan Kota Cirebon


Listrik, Gas dan Air

LISTRIK

Data Kelistrikan yang disajikan merupakan data sekunder dari PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat Cabang Cirebon. Banyaknya pelanggan pengguna listrik pada tahun 2003 sebanyak 63.248 pelanggan, yang tersebar pada golongan tarif sosial (s) 1.182 pelanggan, rumah tangga ® sebanyak 56.906 pelanggan, bisnis )b) 4.561 pelanggan, industri sebanyak 111 pelanggan, dan gedung pemerintah sebanyak 254 pelanggan.

Daya terpasang pada tahun 2003 ini sebesar 99.412.113 KVA.Daya terpasang terbesar pada golongan tarif rumah tangga sebesar 51.589.361 KVA, sedangkan daya terpasang terkecil terdapat pada penerangan jalan umum 1.116.815 KVA.


Banyaknya Pelanggan, Daya Terpasang KWH Terjual dan NilaiPenjualan Menurut Golongan Tarif Kota Cirebon Tahun 2003Gol. Pelanggan Daya Terpasang
(KVA) MWH Terjual Tabel Penjualan
(Rp)
Tarif Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
S 1.182 1.87 4.484.145 4.51 513.974 3.18 326.556.681 3.25
R 56.906 89.97 51.589.361 51.89 8.794.775 54.47 5.126.944.536 51.00
B 4.561 7.21 26.872.365 27.03 3.816.405 23.63 2.745.894.788 27.31.
I 111 0.18 12.447.412 12.52 2.361.924 14.63 1.481.035.944 14.73
P 254 0.40 2.902.015 2.92 400.596 2.48 285.796.075 2.84
P3 234 0.37 1.116.815 1.12 259.757 1.61 87.311.881.087 0.87










2003 63.248 100 99.412.113 100 16.147.431 100 10.053.539.905 100

Sumber : PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat Cabang Cirebon

Keterangan:
S = Sosial
R = Rumah
B = Bisnis
I = Industri
P = Gedung Pemerintah
P3 = Penerangan Jalan Umum


Perdagangan, Hotel dan Restoran
PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

Sektor perdagangan selama ini memiliki konstribusi besar dalam memacu laju pertumbuhan ekonomi di Kota Cirebon. Kondisi ini bisa dipahami dimana Kota Cirebon merupakan pusat perdagangan wilayah III Cirebon yang meliputi Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu. Selain itu Kota Cirebon merupakan kota lintasan yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah sehingga mememungkinkan adanya proses transaksi jual beli. Bila dilihat dari perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan dapat dikelompokkan menjadi perusahaan perdagangan besar, perusahaan perdagangan menegah dan perusahaan perdagangan kecil.

Jumlah perdagangan besar pada tahun 2003 sebanyak 168 perusahaan, sedangkan perusahaan perdagangan menengah 1.772 dan perusahaan perdagangan kecil 5.508.


Banyaknya Pedagang Besar, Menegah dan KecilTahun 1999 - 2003Tahun Pedagang Pedagang Pedagang Jumlah
Besar Menengah Kecil
2003 11 54 415 480
2002 6 38 382 426
2001 3 31 279 313
2000 4 31 247 282
1999 10 4 218 232

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Cirebon

Pendidikan

VISI

"Terselenggaranya pelayanana pendidikan bagi semua lapisan Masyarakat Kota Cirebon menuju terwujudnya Pendidikan yang Berkualitas minimal setara Sekolah Menengah Pada tahun 2006"

MISI

Mewujudkan warga masyarakat kota cirebon menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,serta menjadi insan yang terdidik,cerdas,terampil, disiplin dan memiliki etos kerja untuk menunjang terwujudnya Visi Kota Cirebon.

KEBIJAKAN STRATEGIS
Percepatan/Akselerasi Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di Jawa Barat
Rintisan Pembebasan Biaya Pendidikan Anak yang tidak mampu di 16 Sekolah Dasar
Peningkatan Mutu Pendidikan
Peningkatan Peran dan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pendidikan
Peningkatan dan Pemanfaatan IPTEK Dalam Pembangunan Pendidikan
Pengembangan Program-Program Unggulan:
PERSEKOLAHAN:
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH(MBS)
IMPLEMENTASI BROAD BASED EDUCATION & LIFE SKILLS
IMPLEMENTASIKURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI(KBK)
PENGEMBANGAN SEKOLAH IPK/ IPOR(SD,SLTP,SMU,SMK)
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSI
LUAR SEKOLAH:
PENGEMBANGAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM)
PENGEMBANGAN DIKLUSEMAS/KURSUS-KURSUS KETERAMPILAN
PERINTISAN PAUD (Persil) DI KELURAHAN KARYAMULYA KEC KESAMBI

PROGRAM UNGGULAN
Pengembangan Sekolah Unggulan;
Pengembangan Program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Pola PAKEM
Pengembangan Pendidikan Berbasis Luas Dan Pendidikan Kecakapan Hidup (BBE dan LifeSkill)pada jenjang sekolah;
Pengembangan Program Sistem Ganda (Link and Macth);
Pengembangan Sekolah Kejuruan dan Polyteknik (Difersifikasi Program)
Optimalisasi dan Impementasi Manajemen Berbasis Sekolah;
Program Uji Kompetensi;
Pengembangan Program Akselerasi Belajar (Accelerated Learning);
Pengembangan Model Pembelajaran (Diversifikasi model pembelajaran);
Pengembangan Kursus
Pengembangan sarana/Prasarana Pendidikan;
Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal;
Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan (Internet Sebagai Media Belajar);
Pengembangan Program Life Skill Dalam Pembelajaran di PLS;
Pengembangan Pembelajaran Bahasa Inggris Dan Bahasa Asing lainya Di Sekolah ;
Pengembangan Bantuan Beasiswa;
Pengembangan Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar;
Pengembangan Dan Peningkatan Kerjasama Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri;
Pengembangan Wajar Dikdas dan Intensifikasi Pembinaan Sekolah Terbuka Serta Program Paket Kejar;
PENUNTASAN WAJAR DIKDAS 9 TAHUN
DAN PENCANANGAN WAJAR 12 TAHUN
DI KOTA CIREBON

LANDASAN HUKUM PENUNTASAN WAJIB BELAJAR (WAJAR DIKDAS) 9 TAHUN
Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Keputusan Presiden No.1 Tahun 1994 Tentang Pelaksanaan Wajar Dikdas 9 tahun
Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 21 Tahun 1995 Tentang Pedoman Pelaksanaan Wajar Dikdas di Jawa Barat.
Surat Keputusan wali Kota Cirebon No 421/SK,42,Sosial/1996 Tentang Pembentukan kembali Tim Koordinasi Wajar Dikdas.
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Cirebon

Lambang Daerah Kota Cirebon



UNSUR LAMBANG :

1. Daun Jati
2. Sembilan Buah Bintang
3. Lukisan Laut Berombak
4. Gambar Udang Rebon
5. Garis Bergerigi Sembilan
6. Perisai
7. Warna Dasar Kuning
8. Warna Putih
9. Pita Melingkari Perisai
10. Warna Hitam


Sebenarnya yang dinamakan Daerah Cirebon adalah wilayah bekas Karesidenan Cirebon yang terdiri dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu.

MOTTO DAERAH :
Motto Daerah yang merupakan semboyan kerja adalah Gemah Ripah Loh Jinawi, yang bermakna :

PENGERTIAN BAHASA :
Gemah Ripah berarti negara jembar serta banyak rakyatnya;
Loh Jinawi artinya subur makmur;


PENGERTIAN KESELURUHAN :

Gemah Ripah Loh Jinawi adalah perjuangan masyarakat sebagai bagian bangsa Indonesia bercita-cita menciptakan ketentraman/perdamaian, kesuburan, keadilan, kemakmuran, tata raharja serta mulia abadi

LAMBANG DAERAH :
Lambang daerah yang dilukiskan dalam tata warna sebagimana tertuang dalam Peraturan Daerah No. 2 Tahun 1989 adalah sebagai berikut :
Daun jati yang berwarna hijau tua, mengandung arti bahwa pada jaman dahulu di Cirebon ada seorang pemimpin para wali yang berbudi luhur dan bertahta serta disemayamkan di Gunung Jati dengan nama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, ytang menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa.
Sembilan buah bintang berwarna putih, mengandung arti Walisanga. Kota Cirebon terkenal sebagai tempat berkumpulnya para wali untuk bermusyawarah dalam hubungannya sengan ilmu agama Islam, yaitu :
4 buah bintang di atas dasar kuning emas, menggambarkan ilmu Syari’at, Hakekat, Tarikat, dan Ma’rifat.
5 buah bintang di dalam gambar daun jati, menggambarkan rukun Islam, yaitu : Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji.
Lukisan laut berombak berwarna biru, mengandung arti bahwa masyarakat Cirebon mempunyai kegiatan bekerja di daerah pantai (nelayan), dengan penuh keikhlasan (jalur putih) dalam menunaikan kewajibannya masing-masing ubtuk kepentingan bangsa dan negara.
Gambar Udang rebon berwarna kuning emas, mengandung arti bahwa hasil laut telah memberikan kemakmuran kepada masyarakat Cirebon. Adapun udang rebon merupakan bahan baku untuk pembuatan terasi yang terkenal dari kota Cirebon.
Garis bergerigi sembilan buah berwarna hitam, yang melukiskan benteng yang mendatar berpuncak sembilan buah, mengandung arti bahwa Kotamadya Cirebon bercita-cita melaksanakan pembangunan di segala bidang untukkemakmuran rakyat.
Perisai yang bersudut lima, mengandung arti perjuangan dalam mempertahankan dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 agustus 1945.
Warna dasar kuning emas pada perisai bagian atas, melambangkan kota Cirebon sebagai kota pantai yang bercita-cita melaksanakan pembangunan di segala bidang untuk mewujudkan masyarakat yang tertib, tenteram, adil dan makmur.
Warna putih pada perisai bagian bawah, melambangkan Kota Cirebon letaknya di pinggir laut (kota pantai) yang siap sedia (jalur biru) memberikan hasil laut yang berguna dan berharga bagi kehidupan rakyatnya.
Pita melingkari perisai dengan warna kuning, melambangkan persatuan, kebesaran dan kejayaan.
Dasar lambang yang berwarna hitam, melambangkan keabadian.

Source: www.cirebonkota.go.id

Berburu Oleh-oleh Khas dari Kota Rebon


SH/bayu dwi mardana
Sonny (45) bersama Yoeng Mie Yin (73), pemilik Toko Sumber Jaya.


CIREBON – Berburu oleh-oleh khas Cirebon ternyata bisa jadi petualangan tersendiri. Di kota perbatasan antara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah itu terdapat sentra-sentra yang menyediakan aneka buah tangan bagi para pendatang. Itu sebabnya dibutuhkan kejelian dan ketekunan untuk memilihnya.

Cirebon amat terkenal dengan beragam olahan khas pesisir, terutama berbahan dasar udang. Ini ditunjukkan dengan betapa mudahnya kita mencari aneka buah tangan, seperti terasi, kerupuk, kecap sampai abon yang terbuat dari udang maupun ikan asin. Terasi udang asal Cirebon harumnya sudah sampai ke mana-mana. Begitu pun dengan abon dari rebon (udang kecil). Alhasil terasa belum pas bila pulang tak membawa panganan itu.
Udang memang jadi andalan. Satwa laut ini telah menjadi kebanggaan kota di pesisir pantai utara Jawa itu. Warganya pun yakin udang juga menyumbang kata untuk nama kota mereka. Saking bangganya, arsitektur bangunan Balai Kota dihiasi dengan patung udang. Patung ini terdapat di bagian puncak bangunan.
”Padahal, oleh-oleh khas Cirebon tak cuma udang saja. Di toko ini, kami membaginya menjadi dua, makanan dan non-makanan,” sebut Sonny, 45, pemilik Toko Sumber Jaya, kios yang khusus menjual oleh-oleh Cirebon di Jl. Siliwangi.
Di bagian makanan, oleh-oleh kembali diklasifikasi: mentah dan matang. Kata Sonny, tak semua toko buah tangan menyediakan kedua jenis panganan itu. Ada yang mengkhususkan diri menjual mentah saja, ada pula cuma sedia matang. ”Bedanya, kami sediakan dua-duanya.” Ambil contoh, emping dan kerupuk.
Untuk olahan bahari, makanan khas Cirebon sebetulnya tak terpaku pada olahan udang. Buktinya, kita bisa dengan mudah memilih ikan asin jambal roti, ikan bilis kering, ikan kakap kering, ikan bulu ayam, star fish dan lainnya. ”Semuanya memang dikeringkan supaya tahan lama dan bisa dibawa kemana-mana,” ujar Sonny dengan ramah.
Bila dibiarkan dalam bentuk basah, hasil laut itu sudah pasti cepat membusuk. Tentu saja, ini tak bisa memenuhi syarat buah tangan yang mudah dibawa dan awet. ”Usaha ini dimulai secara sederhana, kita coba kreatif. Daripada dijual basah tapi nggak tahan lama dan cuma dibuang, kenapa nggak dibuat bentuk kering,” papar perempuan perokok berat itu.
Ia mengaku usaha ini dimulai oleh ibunya, Yoeng Mie Yin (73) pada 1979. Saat itu, tempat mereka berjualan belum sebesar sekarang, cuma sebuah toko berukuran 5 x 7 meter. Waktu itu toko ini ada di Pasar Pagi Cirebon, tempat ini memang dikenal sebagai pusat oleh-oleh.
Pada 1988, toko Sumber Jaya pindah. Mereka menempati toko baru di Jl. Siliwangi. Ini jalan utama yang selalu ramai. Sebab jalur ini yang menghubungkan Balai Kota dan Alun-alun Kejaksan dengan daerah lain. Perpindahan ini makin pas sebab di sepanjang jalan ini hotel-hotel pun tumbuh subur. Kelancaran usaha mereka terbukti dengan tiga cabang yang dimiliki. ”Tapi yang dua itu beda manajemen. Yang ngurus adik saya,” jelas Sonny tersenyum.

Bervariasi
Soal harga, lanjut Sonny, bervariasi. Tiap produk dibanderol sesuai dengan mutu dan kandungan bahan baku. Makin gurih dan makin banyak bahan baku yang dipakai tentu saja harganya bakal menguras kantong. Agar seluruh segmen pasar tercapai, toko Sumber Jaya memilih untuk menyediakan beragam harga, sesuai dengan kualitas.
Lihat saja, pada harga yang ditawarkan untuk oleh-oleh terasi udang. Mau cari harga sepuluh ribu-an sampai seratus ribu pun tersedia. Star fish kering dijual dari Rp 45.000 – Rp 90.000 per kilogram. Kerupuk udang ukuran 250 gram, antara Rp 4.500 sampai Rp 12.500.
Selain makanan ala bahari, juga ada manisan. Panganan ini tersedia dari yang fresh sampai bentuk kering. Manisan mangga daging dengan kualitas super bisa dibawa pulang dengan harga, Rp 55.000 per kilogram. Selain enak, manisan ini dijamin tak hancur dalam waktu 9 bulan. ”Total kering dan tanpa pengawet,” tukas Sonny tanpa bermaksud promosi.
Anda pun bisa membawa sirup Campolai. Sirup yang menggunakan bahan dasar gula batu ini memberikan cita rasa alami yang berbeda dengan sirup lainnya. Sirup ini cukup mendapat tempat para pemburu oleh-oleh.
Khas yang tak kalah menggoda adalah teh, rengginang, hingga kerupuk melarat. Makanan khas tersebut tidak semata dari Cirebon, tetapi juga perpaduan dari daerah sekitar, seperti dari Plered, Indramayu, dan Kuningan. Bahkan ada beberapa modifikasi menarik yang dibuat dengan menggunakan bahan sama.
Sebenarnya makanan tersebut lebih dikenal di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Namun, berkat penanganan yang piawai, seperti rasa dan penyajiannya, makanan ini pun dapat dirasakan setiap kalangan.

Non-Makanan
Untuk oleh-oleh non-makanan, kita bisa memilih beragam produk, seperti batik trusmi, poci (tempat menyeduh teh), gerabah, lukisan kaca, lukisan batu alam, dan masih banyak lagi. Sejak lama Cirebon sudah dikenal dengan kerajinan tangan yang khas. Tak heran bila di sekitar Cirebon muncul berbagai sentra kerajinan rakyat.
Menurut para ahli sejarah, kemunculan sentra-sentra tersebut tak terlepas dari upaya penyebaran agama Islam pada masa Sunan Gunungjati sekitar 500 tahun silam. Para pengikut setia Sunan Gunungjati mengajarkan berbagai kerajinan tangan untuk menarik minat masyarakat saat itu memeluk agama Islam.
Misalnya saja, Ki Tegalmantra yang mengajarkan anyam-anyaman kepada masyarakat Cirebon bagian barat sambil berdakwah menyebarkan Islam. Keterampilan ini terus berlanjut turun-temurun, melewati beberapa generasi.
Sampai sekarang penduduk Desa Tegalmantra dan Tegalwangi (tempat Ki Tegalmantra menyebarkan agama Islam) dikenal sebagai sentra industri kerajinan rotan terbesar di Jawa. Sedangkan makam Ki Tegalmantra masih terpelihara dengan baik.
Sementara itu Pangeran Kejaksaan dan Ki Bekila yang memiliki keterampilan membuat benda-benda dari besi, menyebarkan agama Islam di sekitar Desa Jemaras Kecamatan Klangenan. Sampai sekarang keterampilan membuat barang-barang dari besi seperti pacul, golok, dan pisau, masih dilanjutkan penduduk setempat.
Penyebaran Islam juga ikut mempengaruhi setiap motif hias kerajinan tangan, baik ukir kayu, batik maupun gerabah, didominasi motif hias flora seperti bunga melati dan sulur kangkung maupun yang dipengaruhi budaya Cina seperti wadasan (batu karang) dan mega mendung. Sedangkan motif hias fauna, tidak terdapat dalam berbagai kerajinan Cirebon karena sebaiknya dihindari sesuai ajaran Islam.
Di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon – sekitar 5 kilometer dari pusat kota, kita bisa membeli aneka batik khas Cirebon. Batik Cirebon termasuk batik pesisir yang mempunyai corak dan motif tersendiri. Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama.
Batik dari desa Trusmi telah menyebar ke mana-mana. Pangsa pasarnya bukan lagi lokal tetapi sudah merambah mancannegara. Tak heran bila batik dari desa ini lebih dikenal dengan nama Batik Trusmi. Di sini, banyak toko yang khusus menjual Batik Trusmi.
Kerajinan rotan bisa ditemui di Tegalwangi, Kecamatan Plumbon. Aneka bentuk dan desain rotan dapat Anda pilih-pilih sendiri. Di desa Bobos, Sumber terdapat kerajinan tangan lukisan dari batu alam. Bila mengambil jalur ke Jakarta/Bandung lewat Majalengka, Anda akan melewati desa ini. Nah, asyik kan? (*)




Source: Sinar Harapan 2003