Minggu, Desember 02, 2007

Jasa Besar Sam Tjay Kong Tetap Dihargai Keraton Cirebon


MAKAM Sam Tjay Kong yang terletak di Jln. Sukalila Utara atau belakang Pasar Pagi Kota Cirebon kini tengah menjadi perhatian serius, khususnya warga keturunan Tionghoa. Berawal dari kebijakan pemkot terkait pelaksanaan projek penataan Pedagang kaki lima (PKL) yang tengah digarap sebuah developer dalam dua bulan terakhir ini.
MAKAM Sam Tjay Kong alias Tumenggung Aria Wira Tjoela di Jln. Sukalila Utara, Kota Cirebon yang meninggal tahun 1739 dan merupakan salah satu cagar budaya. Sam Tjay Kong adalah Cina muslim kerabat Putri Tan Nio Tien, istri Sunan Gunung Djati yang juga menjabat semacam menteri keuangan Kesultanan Cirebon pada masa pemerintahan Sunan Gunung Djati.* AGUNG NUGROHO/"PR"


Pelaksanaan projek tersebut, rupanya memicu protes keras dari warga keturunan Tionghoa yang tergabung dalam sejumlah lembaga. Sebut saja MPTC (Masyarakat Peduli Tionghoa Cirebon), PSMTI (Paguyuban Sosial Masyarakat tionghoa Indonesia) dan MAKIN (Majelis Agama Kong Hu Cu).

Aksi protes terkait dengan pemasangan tenda yang terdapat persis di depan pagar kompleks makam Sam Tjay Kong. Makam tersebut, ternyata merupakan cagar budaya yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa, tidak saja di Kota Cirebon, tetapi juga di Jabar dan Indonesia.

Pekuburan berusia lebih dari 300 tahun itu merupakan makam keramat dan memiliki nilai historis tinggi. Apalagi, sosok yang dikuburkan di pusara seluas 50 x 50 meter itu, ternyata salah seorang tokoh yang memegang peranan strategis pada masa awal-awal Kesultanan Cirebon.

Polemik pun terjadi terkait dengan pemasangan tenda yang menurut Jeremy Huang, Ketua MPTC dan PSMTI Cirebon, merupakan bentuk kesewenang-wenangan pemkot karena terkesan tidak peduli dengan keberadaan makam sebagai bagian dari cagar budaya Kota Cirebon.

Sikap warga Tionghoa itu juga memperoleh dukungan kalangan sejarawan Kota Cirebon. Di antaranya H.R. Sutadji, K.S, sejarawan yang meminta agar tenda yang telah terpasang dibongkar demi menjaga kelestarian kuburan Sam Tjay Kong.

Seiring terjadinya polemik, masyarakat Cirebon pun kemudian bertanya-tanya, siapakah Sam Tjay Kong. Sosok yang makamnya ternyata menuai protes keras warga Tionghoa ketika di depan pagarnya dipasangi tenda permanen untuk para PKL.

Memang tidak banyak literatur sejarah dalam konteks masa-masa awal berdirinya Caruban Nagari, sebagai kerajaan Islam (Kesultanan Cirebon) yang mengungkapkan sosok Sam Tjay Kong. Kendati demikian, Sam Tjay Kong diakui resmi oleh Keraton Pasepuhan Cirebon, sebagai salah satu pembesar keraton yang memiliki jasa besar bagi Kesultanan Cirebon.

Meski jasanya sangat besar, namun namanya redup justru akibat sikapnya di akhir masa-masa hidupnya. Sam Tjay Kong oleh kalangan muslim (termasuk Cina Muslim di Cirebon), disebutnya sebagai 'murtad', dikarenakan di akhir-akhir hidupnya, dia memilih pindah ke agama Kong Hu Cu.

Walau telah berpindah ke Kong Hu Cu, ketika Sam Tjay Kong meninggal dunia yang menurut prasasti kuburnya tercatat hari Senin, tanggal 24 tahun Jawa 1739 atau sekira tahun masehi 1660 (dikurangi 79 tahun-Red.), Keraton Kasepuhan tetap memberi penghargaan. Hanya saja karena saat meninggal dunia berstatus agama Kong Hu Cu, maka makamnya pun dipisahkan dengan kompleks makam Cina muslim yang berada di Gunung Sembung, depan kompleks makam Sunan Gunung Djati.

Menteri Keuangan handal

Sam Tjay Kong semasa hidupnya dikenal sebagai administrator unggul. Dialah yang memegang dan mengatur arus keuangan Keraton Kasepuhan, dia dikenal sebagai bendahara atau "menteri Keuangan' yang andal. Berkat kepiawaiannya, Keraton Kasepuhan bisa berkembang dan sehat dari sisi keuangan sehingga syiar Islam di tanah Jawa (Jabar-Red.) bisa berjalan lancar.

Meski sekilas, nama Sam Tjay Kong sempat tercatat dalam dua risalah sejarah Cina di Indonesia pada masa Kesultanan Cirebon (Caruban Nagari). Pertama adalah buku "Chinese Epigraph Material in Indonesia" (Cagar Budaya Cina di Indonesia) dengan penulis Salmon Claudine, kemudian buku "Cina Muslim di Jawa abad XV dan XVI" yang ditulis H.J. de Graff.

Dalam bukunya, de Graff menemukan sosok Sam Tjay Kong pada catatan tahunan Melayu oleh Tom Pires (pengelana bangsa Portugal). Dalam catatan Melayu, Sam Tjay Kong aslinya bernama Tan Sam Cai dengan nama muslim Muhammad Syafi'i.

Dia menjadi Menteri Keuangan Keraton Kasepuhan Cirebon sepeninggal Sunan Gunung Djati. Disebut-sebut, Sam Tjay Kong alias Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi'i, menjadi bendahara cakap dan terpercaya pada masa transisi ketika Kesultanan Cirebon di bawah Panembahan Ratu, pengganti sementara Sunan Gunung Djati yang telah wafat.

Dalam catatan Melayu Tom Pires, disebutkan Sam Tjay Kong mengakhiri hidupnya dengan tragis. Dia meninggal dunia di salah satu gua di kompleks pertapaan Gua Sunyaragi yang dibangunnya sendiri, dia meninggal dunia bersama seorang "harim" (istri simpanan).

Saat itu, statusnya sudah berpindah agama dari Islam ke Kong Hu Cu. Perpindahan agama Sam Tjay Kong tidak dijelaskan secara gamblang dalam sejarah. Hanya menurut Jeremy Huang, Sam Tjay Kong atau Muhammad Syafi'i mengalami goncangan psikologis sepeninggal Sunan Gunung Djati, sehingga memutuskan pindah ke Kong Hu Cu.

Tetap dihormati

Jasad Sam Tjay Kong ditolak mentah-mentah saat akan dikuburkan di pemakaman Cina muslim di Gunung Sembung. Penolakan itu dilakukan oleh seorang petinggi Keraton Kasepuhan lainnya yang juga keturunan tionghoa, bernama Kung Sun Pak, sebagai juru kunci makam Gunung Sembung (Kung Sun Pak adalah cucu Kung Wung Ying, wakil Laksamana Cheng Ho yang ditugaskan mendarat di Caruban Nagari untuk membantu perkembangan Islam di Kesultanan Cirebon).

Meski demikian, pemakaman jasad Sam Tjay Kong alias Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi'i menggunakan upacara resmi kenegaraan. Apalagi Keraton Kasepuhan Cirebon (Kesultanan Cirebon) memberi gelar kebesaran terhadap Sam Tjay Kong dengan sebutan Tumenggung Aria Wira Tjoela, berkat jasa besarnya sebagai menteri keuangan.

"Gelar Aria itu merupakan gelar yang tinggi. Ini hanya bisa diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa luar biasa bagi Keraton Cirebon. Sam Tjay Kong memperoleh gelar tertinggi yang hanya setingkat di bawah Rakean. Rakean itu gelar turun-temurun keturunan raja atau sultan," tutur sejarawan, Sutadji.

Sosok Sam Tjay Kong juga disinggung secara sekilas dalam buku sejarah "Cagar Budaya Cina di Indonesia" dengan penulis Salmon Claudine. Di buku itu, disebut-sebut bahwa Sam Tjay Kong merupakan arsitek kompleks pertapaan raja atau yang dikenal dengan Gua Sunyaragi.

Mengutip Bong Pay (nisan kubur) Sam Tjay Kong, buku itu mengemukakan, Sam Tjay Kong memiliki nama kecil Chen San Cai, kemudian berubah menjadi Tam Sam Tjay. Setelah menjabat sebagai bendahara keraton memperoleh gelar Tumenggung Aria Wira Tjoela dan memiliki nama muslim Muhammad Syafi'i.

Berasal dari daerah Chen Lan She yang masih merupakan wilayah Ds. Lang Xi, Kab. Zhy Zhou, Fu Jian, Cina Selatan. Mendarat ke Cirebon ikut rombongan Putri Ong Tin Nio, anak raja Hong Gi yang setelah menikah dengan Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayat) di Keraton Prabu Luragung (Jagakarsa, Adipati Kuningan) pada tahun 1481 masehi, bergelar Ratu Sumanding dan menetap di Pesanggrahan Gunung Sembung.

Mengenai keberadaan Sam Tjay Kong sebagai pengawal Putri Ong Tien Nio ini masih kontroversial. Sejarawan Sutadji bahkan meragukan fakta itu, sebab dalam catatan sejarahnya, Putri Ong Tien Nio mendarat di Pelabuhan Muara Jati dikawal oleh dua orang, yakni pengawal Lie Guan Chang dan nakhkoda Lie Gun Hien. "Saya tidak menemukan nama Sam Tjay Kong atau Tan Sam Tjay sebagai pengawal Putri Ong Tien Nio saat mau dikawinkan dengan Syarif Hidayat. Namun, kalau ada catatan sejarah dengan sumber valid menyatakan Sam Tjay Kong sebagai pengawal, itu bisa saja. Mengingat banyak fakta sejarah yang belum terungkap," tutur dia.

Meski dinilai sosok kontroversial, namun nama Sam Tjay Kong tetap dihormati sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah Kesultanan Cirebon. Bahkan sebagai bukti penghormatan itu, kompleks makamnya yang terdiri dari 1 makam utama dan 4 makam kerabat, dihiasi bangunan dengan dua gaya arsitektur, yakni Islam dan Cina (Kong Hu Cu). "Sam Tjay Kong sangat dihormati warga tionghoa beragama Kong Hu Cu. Ia juga yang membangun Klenteng di daerah Talang, Kota Cirebon," tutur Jeremy.

Sebagai penghormatan, di tahun 1919 masehi, makam Sam Tjay Kong dipagar keliling oleh Mayor Tan Chi Ji, pemimpin pecinan di Kota Cirebon. Pagar itu dilengkapi prasasti bertuliskan huruf kanji Cina, melayu, dan Jawa.

Makam Sam Tjay Kong juga pernah mashur dan dikenal luas oleh masyarakat di tahun 60 sampai 70-an. Di kompleks makam itu, dulu menjadi salah satu pusat keramaian kota Cirebon tempo dulu dimana banyak pedagang termasuk juga tukang ramal yang memanfaatkan para peziarah ke makam keramat itu, juga bagi sebagian warga digunakan untuk memperoleh wangsit agar dapat petunjuk mendapat rezeki dari kode buntut. "Tahun 70-an, di depan makam bahkan menjadi terminal sado atau dokar. Ratusan peziarah datang dari berbagai daerah, tak hanya warga tionghoa," ujar Jeremy.

Memasuki tahun 80-an, kemashyuran makam itu pudar. Yang semula ramai menjadi sepi hingga tumbuhlah ilalang dan tidak terawat, bahkan sering digunakan untuk maksiat seperti prostitusi, perjudian sampai pesta minuman keras para berandal.

Setelah reformasi, makam itu kembali terawat. Masyarakat tionghoa yang semula acuh tak acuh, mulai ikut peduli, juga dari sebuah parpol yang sempat mengerahkan masa untuk membersihkan kompleks makam.

Makam ini semula sepertinya hilang ditelan zaman. Belakangan dengan dibangunnya tenda di depan pagarnya oleh developer yang mengerjakan projek penataan PKL, nama Sam Tjay Kong, Tan Sam Tjay, Tumenggung Aria Wira Tjoela dan Muhammad Syafi'i pun kembali muncul menjadi polemik.(Agung Nugroho/"PR")***

1 komentar:

pur mengatakan...

Hmmm.. oke banget, tulisanya, andai bisa lbih detail
Bisa minta copy ke email saya ga ( handoyopurnomo9@gmail.com ), ditunggu ya kisah2 yg laen.. cayooo..